All posts by PMPR&PG MAHATVA KMFP UNPAD

CERAMAH ILMIAH

CI

Mahatva Unpad Proudly Present :
Kalian mahasiswa? Sering lihat bencana-bencana yang sering terjadi? Apa kalian sudah tau peran mahasiswa dalam mitigasi bencana? Ayo ikutin Ceramah Ilmiah dgn tema “Peran Mahasiswa dalam Mitigasi Bencana”. Pembicaranya sangat seru lo, bisa diliat di gambar ! Dapat 2 struk loh, cuman 5 Ribu Rupiah !
Ayo daftarkan dirimu dengan format : Nama / Angkatan. Lalu SMS ke CP : 085224530371 (Nisa)

Sunda Lesser Island

Ekspedisi Sunda Lesser Island
Dokumentasi Video

                   Mahasiswa sebagai anggota masyarakat ilmiah selain dituntut untuk dapat mengembangkan daya nalar dan penelitiannya terhadap ilmu pengetahuan, juga diharapkan untuk turut serta menanggapi dan turut memecahkan  permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu mahasiswa diharapkan dapat peka terhadap lingkungannya dan mengaplikasikan segala kemampuannya untuk lingkungannya tersebut.
Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Mahatva (PMPR & PG Mahatva) adalah salah satu perhimpunan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran yang bergerak di kegiatan alam terbuka, merupakan suatu wadah bagi komponen warga Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (KMFP UNPAD) untuk menyalurkan minat bakat bahkan tempat menempa ilmu pertanian, karena kegiatan PMPR & PG Mahatva terintegrasi dengan ilmu pertanian.
Indonesia secara geografis terbagi menjadi tiga kawasan yaitu Kawasan Paparan Sunda, Kawasan Wallacean dan Kawasan Paparan Sahul. Kawasan Paparan Sunda terdiri dari Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kawasan Wallacean yang merupakan kawasan peralihan terdiri dari Pulau Sulawesi, Sunda Lesser Island dan Kepulauan Maluku. Kawasan Paparan Sahul terdiri dari Pulau Irian Jaya dan Kepulauan Aru. Kawasan Sunda Lesser Island merupakan kawasan peralihan dari kedua paparan yang ada di kawasan timur dan barat, sehingga terdapat perbedaan yang mencolok antara flora kawasan barat Indonesa yang bertipe Asia dan kawasan timur Indonesia yang bertipe Australia (Van Welzen et al, 2011).
Perbedaan geografis menyebabkan perbedaan lingkungan tumbuh dari masing-masing kawasan tersebut, sehingga berpengaruh terhadap karakteristik morfologi dan fisiologi di masing-masing kawasan tersebut (Enquist et al, 2006). Perbedaan karakter morfologi dan fisiologi dapat digunakan untuk beberapa kepentingan salah satunya adalah sebagai penduga tanaman potensi pangan dan obat. Selain itu karakter morfologi dan fisiologi merupakan hal yang sangat penting dalam konservasi plasma nutfah (Frankel, 1984).
               Wilayah spesifik dari kawasan Sunda Lesser Island yang dijadikan tempat observasi adalah Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu. Pemilihan taman nasional sebagai tempat observasi dikarenakan taman nasional merupakan wilayah konservasi in-situ yang paling terjaga kondisi keseimbangan ekosistem aslinya (Mackinnon et al, 1993). Kedua taman nasional itu memiliki hutan tropis dari vegetasi pantai sampai vegetasi montana yang mewakili seluruh Kawasan Sunda Lesser Island.
Dengan potensi flora kawasan yang tinggi, maka eksplorasi dan inventarisasi plasma nutfah pangan dan obat yang tumbuh di Sunda Lesser Island perlu dilakukan untuk memperoleh data dan memberikan informasi kepada masyarakat umum berupa potensi tanaman Indonesia sebagai bahan pangan alternatif dan obat. Tersedianya informasi yang lengkap akan memudahkan pemanfaatan plasma nutfah flora potensi pangan dan obat sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pertanian.
                     Eksplorasi plasma nutfah flora potensi pangan dan obat dilakukan secara terpisah berdasarkan kawasan taman nasional yaitu Taman Nasional Kelimutu dan Taman Nasional Komodo. Hasil dari eksplorasi kedua kawasan taman nasional tersebut yaitu  telah terkoleksinya 9 jenis flora potensi pangan dan 21 flora potensi obat.

Masyarakat sekitar kawasan hutan taman nasional menggunakan padi atau beras sebagai pangan utama mereka, namun pada saat-saat tertentu, seperti kondisi musim kering, mereka menggunakan pangan-pangan alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jenis tumbuhan tersebut memiliki keragaman habitus dari mulai pohon hingga perdu, yang dikumpulkan dari berbagai macam tipe ekosistem hutan. Namun habitus pohon mendominasi dari keseluruhan spesies pangan alternatif yang didapatkan di kawasan penelitian. Sebanyak 7 jenis pangan alternatif yang memiliki habitus pohon. Berbagai macam bentuk pengolahan dilakukan untuk memenuhi standar selera dari masing-masing masyarakat, namun cara terbaik yaitu dengan memanfaatkan sari pati dari tanaman tersebut dan menjadikannya sebagai tepung. Ketersediaan pangan alternatif tersebut sangat terbatas, karena hanya sedikit masyarakat yang membudidayakan tanaman-tanaman tersebut. Sebagian besar masyarakat mendapatkan pangan alternatif dengan cara mengambil dari hutan. Sebanyak 4 jenis tumbuhan yang digunakan bijinya untuk dimanfaatkan sebagai pangan (Sorghum bicolor, Coix lacryma, Zea mays, dan Sterculia feotida), 3 jenis yang dimanfaatkan batangnya (Corypha gebanga, Corypha utan dan Borassus flebellifer), 4 jenis yang dimanfaatkan buahnya (Borassus flabellifer, Cycas rumphii, Manilkara kauki dan Uvaria rupa), 1 jenis yang dimanfaatkan umbinya (Dioscorea hispida), dan 1 jenis yang dimanfaatkan daunnya (Ocimum sanctum).

                      Tumbuhan potensi obat sebagian besar merupakan tumbuhan liar yang hidup di kawasan hutar sekitar taman nasional. Masyarakat sekitar kawasan hutan pun banyak yang memanfaatkan keseluruhan tumbuhan potensi obat yang kami koleksi sebagai obat tradisional. Pemanfaatan obat tradisional baru dicatat sebagai kearifan pengetahuan penduduk lokal, karena belum dilakukannya uji kandungan alkaloid maupun uji kandungan kimia. Tumbuhan potensi obat yang digunakan yaitu Jatropha curcas, Chromolaena odorata, Caesalpiniea sappan, Kalanchoe pinnata, Dampat Tali (belum diidentifikasi), Dampar Pohon (belum diidentifikasi), Hibiscus tiliaceus, Caesalpiniea bonduc, Erythrina sp., Lannea grandis, Morinda  pubescens, Cymbopogon sp., Wrightia calcyna, Voacanga grandifolia, Imperata sp., Anona squamosa, Ceiba pentadra.

Taman Nasional Bali Barat

 Lintas Taman Nasional dan Pengaruh Pemanfaatan SDA Masyarakat Desa Sumberkelampok terhadap Habitat Jalak Bali
             Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Mahatva (PMPR & PG Mahatva) merupakan salah satu perhimpunan mahasiswa yang mewadahi mahasiswa fakultas pertanian yang memiliki ketertarikan dalam kegiatan di alam bebas. Dalam status keanggotaannya, ada beberapa jenis keanggotaan, yaitu Anggota Muda Mahatva (AMM),  Anggota Biasa(AB), Anggota Pasif (AP) serta Anggota Kehormatan (AK). Seluruh anggota yang masih berstatus AMM diharapkan dapat merubah status keanggotaannya menjadi AB. Untuk menjadi AB, seluruh AMM  harus melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan ini dapat berupa pendakian gunung, pemanjatan tebing, penyusuran pantai dan penyusuran sungai.
Saya dan beberapa rekan yang masih berstatus sebagai AMM membentuk satu tim dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Mungkin masih banyak orang yang belum familiar tentang Taman Nasional ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang sebagian masyarakat Indonesia lebih mengenal pulau menjangan (pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional dan merupakan salah satu spot diving yang bagus di Indonesia) dibandingkan Taman Nasional Bali Barat sendiri.
TNBB terletak di ujung pulau Bali.Terbentang di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng. TNBB sendiri sebenarnya memiliki pantai yang tidak kalah bagus daripada  pantai yang terdapat di Pulau Menjangan. Selain memiliki keunggulan pada pantainya, Taman Nasional ini memiliki tempat penangkaran Burung Jalak Bali yang merupakan hewan endemic yang hanya terdapat di Bali Barat. Selain itu dalam Taman Nasional ini juga terdapat pura yang merupakan tempat sembahyang orang hindu. Ketiga hal diatas merupakan daya tarik tersendiri bagi TNBB.

Dalam perjalanan yang kami lakukan, kami menyempatkan untuk berkunjung ke tempat Penangkaran Jalak Bali yang terdapat di Tegal Bunder dan Brumbun. Ada perbedaan diantara kedua tempat penangkaran tersebut, di Tegal Bunder penangkaran Jalak Bali berupa tempat pengembangbiakan Jalak bali dari telur hingga Jalak Bali siap untuk di lepas ke alam bebas. Sedangkan di Brumbun, penangkaran berupa beberapa Jalak Bali yang sedang dalam proses adaptasi dengan alam bebas untuk selanjutnya siap dilepaskan.

                  Sepanjang perjalanan di Taman Nasional kami memilih melakukan perjalanan melewati jalur yang telah ada. Jalur ini dapat dilewati oleh kendaraan beroda dua dan beroda empat. Jalur ini sengaja dibuat untuk akses masyarakat yang ingin melakukan sembahyang di pura yang terdapat di daerah lampu merah. Pura ini dapat dikatakan merupakan pura yang paling besar dibandingkan pura-pura lain yang ada di dalam Taman Nasional. Sayangnya pura yang ada dalam Taman Nasional tidak dapat kami dokumentasikandalam bentuk gambar.

Di sepanjang jalur menuju daerah Lampu Merah ini kami melewati beberapa pantai yang memiliki pemandangan yang sangat bagus. Pantai yang ada juga memiliki pasir yang putih, bersih dan halus. Bahkan air laut disana memiliki gradasi warna yang sangat indah serta jernih. Bahkan pada saat airnya surut, kami bisa menemukan beberapa biota laut, diantaranya bintang laut, ikan-ikan kecil, belut laut, ubur – ubur serta keong laut.

Selama perjalanan kami juga dapat menemukan beberapa hewan liar yang ada di dalam Taman Nasional, diantaranya monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, dan elang. Dalam perjalanan menuju Desa Sumberklampok kami melewati daerah padang rumput yang dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat menggembalakan sapi dan kerbau milik mereka.

Mudah-mudahan tulisan kami ini dapat membuktikan bahwa memang pemandangan alam yang ada dalam Taman Nasional Bali Barat tidak dapat dipandang sebelah mata dan disepelekan, karena menurut kami masing-masing tempat wisata pasti memiliki ke-khasan keindahan alamnya masing-masing.

Gunung Agung, Bali

Pendakian Jalur Junggul – Besakih dan Pendokumentasian Cemara Berdarah

Perjalanan Gunung Agung dilakoni oleh beberapa anggota muda Mahatva dalam rangka perjalanan mendapatkan nomor pokok anggota. Anggota muda Mahatva tersebut terdiri dari Dinan Nurhayat, Al-Maula Rijal, Aldy M. Faiz, Aldi Guntara, dan Daniel Karel yang mana memiliki satu visi dan tujuan dalam melakukan perjalanan anggota muda ini dan tentunya sebelumnya di pendidikan dasar sudah ditempa menjadi satu jiwa oleh badai, angin, dan kabut. Gunung hutan adalah medan yang ingin ditempuh oleh kami, setelah mencari-cari tempat perjalanan maka dipilihlah Gunung Agung Bali. Pemilihan ini dikarenakan Gunung Agung merupakan gunung yang diistimewakan oleh masyarakat Bali sebagai gunung paling suci. Kemudian Gunung Agung juga memiliki jalur baru yang menarik untuk didokumentasikan dan juga akan adanya rumor mengenai pohon cemara berdarah yang konon menurut masyarakat bisa dijadikan obat.

Perjalanan dimulai pada tanggal 29 Juni 2012, tim melakukan upacara pelepasan di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran terlebih dahulu. Setelah upacara kami pun bergegas ke rumah dinan untuk transit dahulu sebelum berangkat ke Bali dari Cicaheum. Setelah melakukan persiapan terakhir, kami pun berangkat ke Cicaheum, dan dari sana kami berangkat menggunakan bis Kramat Djati. Sesampainya di Cileunyi, kami menjemput pendamping perjalanan kami terlebih dahulu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kang Are. Setelah itu perjalanan menuju Bali dilanjutkan masih menggunakan bis Kramat Djati yang kami percaya akan membawa kami ke Bali. Setelah perjalanan darat yang cukup panjang, akhirnya kami menginjakan kaki di pulau dewata pada tanggal 30 Juni 2012, sekitar Pukul 21.20 WITA. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Terminal Mengwi yang merupakan tempat pemberhentian dari bis Kramat Djati. Tetapi setelah bertukar pikiran dengan pengemudi bis, kami mendapatkan informasi mengenai kendaraan selanjutnya yang akan kami tumpangi menuju daerah Besakih. Sekitar pukul 00.20 WITA kami diturunkan sebelum Mengwi, karena kendaraan tumpangan kami yang selanjutnya sudah menjemput. Disitulah kami berpisah dengan bis Kramat Djati dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil angkot charteran menuju Besakih. Tim kami tiba di Besakih sekitar pukul 2.20 WITA, dan tim segera bergegas mencari tempat istirahat. Tim baru beristirahat sekitar pukul 3 WITA.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 WITA, tim pun segera bangun dan bersiap-siap karena pagi itu juga tim akan mendaki gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung. Meskipun hanya tidur sebentar, tim tetap semangat untuk menapakan kaki di puncak tertinggi Gunung Agung. Dari Besakih kami berpindah ke Jugul yang merupakan titik awal pendakian kami dan letaknya tidak terlalu jauh dari Besakih. Pendakian dimulai sekitar pukul 9.45 WITA, dan di awal jalur jugul kami harus memotong jalur menyusuri punggungan menuju jalur temukus karena di jalur inilah pohon cemara berdarah tersebut berada. Sepanjang jalan kami menemukan hal yang baru kami lihat, terdapat ladang bunga edelweiss. Bunga edelweiss tersebut digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Setelah berjalan dan terus berjalan, akhirnya kami menemukan pohon cemara berdarah tersebut. Disana kami mndokumentasikan pohon tersebut dan mengambil samplenya juga sambil kami istirahat dan makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA. Sekitar sejam kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan turun menyusur punggungan kembali untuk masuk kembali ke jalur jugul. Di perjalanan kami menemukan bekas aliran lava sewaktu Gunung Agung meletus dahulu kala. Akhirnya kami pun berada di jalur jugul kembali dan melanjutkan perjalanan ke titik camp. Medan yang terus menanjak menguras stamina kami semua dan menuntut kami untuk tetap tabah. Akhirnya setelah cukup lama berjalan, kami sampai di titik camp dan matahari pun sudah mulai terbenam digantikan oleh bulan yang malu-malu menampakan dirinya. Di tempat camp tersebut kami mendirikan tenda, memasak, makan malam, dan beristirahat. Pukul 22.00 WITA kami pun memutuskan untuk beristirahat, dinginnya cuaca yang menusuk tidak bisa menghentikan tubuh kami semua yang ingin beristirahat setelah berjalan seharian.

Esok harinya sekitar pukul 03.30 WITA kami bangun dan bersiap untuk melancarkan summit attack. Akhirnya perjalanan menuju puncak kami lanjutkan kembali dengan medan yang terus menerus menanjak seolah tak ada habisnya. Medan yang kami lewati berupa batuan-batuan besar dan ketika batas vegetasi medannya menjadi pasir bercampur kerikil yang menuntuk kehati-hatian kami karena jalan yang licin dan disamping kami terdapat jurang yang bisa saja mencelakakan kami jika kami tidak waspada. Akhirnya pukul 6.30 WITA kami sampai di puncak Gunung Agung yang berketinggian 3.142 mdpl. Puncak tersebut berada di atas awan, seolah membawa kami berada di negeri di atas awan. Dapat terlihat puncak Gunung Rinjani di kejauhan dan kawah Gunung Batur yang sangat memanjakan mata, indah sekali. Kami juga berkesempatan melihat matahari mulai terbit dan mulai menampakan sinarnya yang menyinari bumi ini. Tak lupa, di puncak kami bersyukur kepada tuhan yang maha kuasa dengan melakukan shalat shubuh berjamaah di puncak. Ketika shalat tubuh kami tak henti-hentinya menggigil karena dinginnya cuaca di atas sana. Sampai ingus pun terus mengalir tanpa dikomando. Tak lupa kami mengibarkan panji mahatva di atas Gunung Agung, dan mengabadikan momen-momen tersebut dengan foto-foto.

Setelah itu kami pun turun kembali menuju ttitik camp, untuk bersiap-siap turun dari Gunung Agung. Selesai membersihksn camp, kami pun bergegas turun. Medannya menjadi turunan yang cukup curam dengan medan tanah pasir bercampur dengan  kerikil sehingga akan sangat licin. Beberapa anggota sempat jatuh bangun dan tersungkur. Akhirnya setelah berjalan terus melewati medan turunan jalur jugul kami sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami pun ikut mandi di rumah warga. Beres membersihkan diri kami beristirahat dan mencari tempat istirahat. Akhirnya kami ditawarkan untuk menginap di sekretariatan Betalgo. Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan bersiap untuk jalan-jalan menikmati keindahan pulau dewata terlebih dahulu sebelum kami kembali pulang ke Jatinangor. Puas berkeliling dan membeli beberapa oleh-oleh kami akhirnya pulang kembali menuju sektretariat Mahatva di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Kami sampai kembali di sekretariat Mahatva pada tanggal 5 Juli 2012, dengan ini berakhirlah perjalanan menggapai puncak tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Pantai Selatan Belitung

Penyusuran Pantai dan Pendokumentasian Vegetasi di Sepanjang Jalur Ujung Gresik – Tanjung Rusa serta Daya Tarik Pantai Batu Lubang

Perjalanan yang dilakukan oleh Tim Belitung PMPR & PG Mahatva Faperta Unpad yaitu Penyusuran Pantai dan Pendokumentasian Vegetasi Disepanjang Jalur Gresik – Tanjung Rusa Serta Daya Tarik Potensi Wisata Pantai Batu Lubang. Tujuan dari Perjalanan ini adalah untuk menggali potensi Pantai Selatan Belitung yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni – 10 Juli 2012.

Tim Belitung Terdiri dari Amana Ratna, Yitzhak Nazareth   , Djaka Padmaprasetya, Khanif Alfian, Muhammad Ali Akbar, dan Noval. Perjalanan ini adalah perjalanan anggota muda dengan tujuan pengambilan Nomor Pokok Anggota (NPA) di PMPR & PG Mahatva Faperta Unpad.

Pendokumentasian Vegetasi Disepanjang Jalur Gresik – Tanjung Rusa

Jarak yang ditempuh oleh tim yaitu 54,6 km. Rute yang dilewati oleh tim yaitu :

  1. Pantai Ujung Gresik.
  2. Dusun Padang Kandis.
  3. Pantai Teluk Gembira.
  4. Pantai Awan Mendung.
  5. Pantai Tanjung Kiras.
  6. Pantai Batu Belah.
  7. Pantai Batu Lubang.
  8. Gunung Kura.
  9. Desa Gunung Riting.
  10. Dusun Cepun.
  11. Dusun Sabung.
  12. Desa Tanjung Rusa.