All posts by PMPR&PG MAHATVA KMFP UNPAD

Taman Nasional Baluran

Studi Masyarakat Kampung Merak dalam Mempertahankan Usahatani

Taman Nasional Baluran (TNB) adalah suatu kawasan konservasi yang terletak di ujung Timur Pulau Jawa tepatnya sebelah utara  Banyuwangi  Jawa Timur. Letak geografisnya terletak diantara 1140 18’ – 1140 27’ Bujur Timur dan 70 45’ – 70 57’ Lintang Selatan. Kawasan TNB ditetapkan memiliki luas sebesar 25.000 Ha wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan.Sesuai dengan peruntukkannya luas kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa zona yang terdiri dari :

  1. Zona inti seluas 12.000 Ha.
  2. Zona rimba seluas 5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha).
  3. Zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 Ha
  4. Zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan zona rehabilitasi seluas 783 Ha.

Pengelolaan kawasan TN Baluran dibagi menjadi dua Seksi Pengelolaan Taman Nasional, yaitu: Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Bekol, meliputi Resort Bama, Lempuyang dan Perengan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karangtekok meliputi Resort Watu Numpuk, Labuhan Merak dan Bitakol.

Awalnya Taman Nasional Baluran merupakan Suaka Margasatwa dan baru ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional pada tahun 1997. Didalam kawasan Taman Nasional terdapat beberapa perkampungan yang seharusnya tidak ada dalam kawasan konservasi.

Sekitar tahun 1975 mentri dalam negeri memberikan izin Hak Guna Usaha (HGU) kepada PT. Gunung Gumintir melalui SK Nomor 16/HGU/DA/1975. Pada tahun 2000 PT. Gunung Gumintir gulung tikar dan tidak bertanggung jawab terhadap Para  pekerja, sehingga pekerja kehilangan matapencaharian, yang pada akhirnya mereka tetap tinggal di kawasan Taman Nasional Baluran hingga saat ini. Matapencaharian masyarakat kawasan Taman Nasional sebagian besar adalah sebagai peternak sapi yang digembalakan di savana-savana yang banyak terdapat di TNB.Akan tetapi masih ada sebagian masyarakat yang memilih untuk bertani di kawasan TNB.

Tim Tarantula pada tanggal 23 juni – 2 Juli 2012 melakukan Lintas Taman Nasional Baluran. Tim berangkat dari sekre pada sabtu, tanggal 23 juni 2012 pukul 04.00 WIB menuju St. Kiaracondong dengan menggunakan mobil pribadi. Perjalanan sekitar 1 jam untuk mencapai St.kiaracondong.

Pukul 06.00 tim berangkat menuju St. Lempuyangan ( Yogyakarta) dengan menggunakan kereta api Pasundan (Rp. 35.000). pukul 14.55 WIB tim tiba di St.Lempuyangan dan ISOMA selama 1 jam lebih 50 menit. Karena tiket kereta menuju banyuwangi tersisa 4 tiket, tim lalu menggunakan plan B yaitu berangkat menuju  Banyuwangi dengan menggunakan bis.

Pukul 15.45 WIB tim berangkat menuju terminal Giwangan denggan menggunakan mobil carteran (Rp.30.000). tim tiba di stasium Giwangan pukul 16.05 WIB. Hingga pukul 17.10 WIB, tim menunggu bis yang akan menuju Banyuwangi (bis AKAAS). Perjalanan dari terminal Giwangan hingga terminal Karangente ditempuh dengan waktu 15 jam  dengan biaya Rp.88.000/org.

Minggu, 24 juni 2012 tim tiba di terminal Karangente pada pukul 07.40 WIB. Tim melanjutkan perjalanan ke terminal Katapang dengan mencarter angkot (Rp.50.000) dan tiba pada pukul 08.10 WIB. Tim lalu melanjutkan perjalanan ke kantor balai TNB menggunakan bis jurusan Banyuwangi-Situbondo (Rp.8.000/org) dan Tim tiba di kantor balai TNB pada pukul 09.17 WIB. Tim lalu beristirahat di kantor balai karena tim datang pada hari minggu, maka tim tidak dapat mengurus SIMAKSI.

Senin, 25 Juni 2012

Hari ke-1 operasi dimulai dengan mengurus izin (SIMAKSI) setelah beradu argumen, mengisi formulir ini itu dan di oper dari satu orang ke orang lain, akhirnya tim mendapatkan SIMAKSI.

Tim Tarantula melakukan Lintas Taman Nasional Baluran dari jalur Selatan ke Utara. Titik awal dimulai di desa Pandean pada hari senin pukul 10.15 WIB. Tujuan utama titik camp berada di tanjung tjandibang, sepanjang perjalanan kami menyusuri pantai berpasir hitam, disana terdapat beberapa masyarakat yang mencari kerang untuk dijadikan aksesoris yang kemudian akan mereka jual.

Pada pukul 16.10 WIB tim sampai di tanjung tjandibang. Tanjung tjandibang ini meupakan tempat berziarah masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya, terdapat makam dan sumur yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Tanjung tjandibang ini akan diramaikan oleh peziarah pada hari Kamis malam Jumat.

Hari selasa 26 Juni 2012 tim berjalan dari tanjung tjandibang menuju pantai Bama. Medan yang dilalui adalah pantai, hutan mangrove dan rawa asin, padang rumput savana, dan hutan payau. Perjalanan menuju pantai Bama ditempuh dalam waktu 7 jam. Mungkin perjalanan bisa lebih singkat jika istirahat tidak terlalu lama dan  tidak bermain-main dahulu (baca : nyasar). Perjalanan yang memakan waktu lama ini dikarenakan vegetasai yang dilewati tim sebagian besar adalah hutan mangroove yang lebat sehingga menyusahkan tim untuk resection.

Karena hutan mangroove yang lebat membuat tim memilih untuk menyusuri pantai, akan tetapi karena terlalu terlena oleh view yang nice sehingga kami tidak menyadari bahwa jalur yang kami lewati adalah jalur yang menuju hutan mangroove tak berujung (tidak bisa dilewati-red). Akhirnya tim beristirahat untuk makan siang dan lenye-lenye di teluk yang dikelilingi oleh pohon-pohon bakau.”nice,,, hidup ini memang indah bung!!” kata Tarantula.

Setelah tenaga terkumpul kembali, tim memutuskan untuk menyusuri kembali ke jalur tadi (sebelum nyasar-red). Sekitar pukul 14.00 kami menemukan jalur yang kami peroleh dari informan di tanjung tjandibang. Dan kami menyusuri jalur patroli hutan. Akan tetapi kami lagi-lagi terkecoh oleh jalur yang sangat banyak dan membingungkan kami untuk resection karena vegetasinya adalah hutan dengan pohon yang tinggi dan cukup rapat. Akhirnya tim memilih untuk berjalan kearah pantai agar dapat orientasi medan. Akan tetapi tim tidak menemukan pantai melainkan masuk semakin dalam ke hutan mangroove dan kami mengambil kesimpulan yang teramat pahit : nyasar untuk kedua kalinya!

Alhamdulilah berkat keinginan kami yang kuat untuk tidur dan kekuatan danop untuk membuka jalur dengan bantuan feeling danop (karena kata egis danop aing kumaha aing ), akhirnya kami menemukan jalur patroli menuju pantai Bama, yeeey!!!

Singkat cerita, kami sampai di pantai bama pada pukul 17.00 WIB. Dan kami membagi tim menjadi dua, untuk melapor ke resort bekol dan tim lainnya mendirikan camp tepat di pinggir pantai bama.

Pantai bama merupakan pantai yang memiliki daya tarik wisatawan ketika mengunjungi TNB. Karena letaknya tidak jauh dari savana bekol yang merupakan tempat favorit di TNB, wisatawan di pantai bama dapat menikmati pemandangan sunrise dan sunset serta dapat berwisata air seperti bermain kano.

Rabu, 27 Juni 2012.

Hari ke-3 oprasi diawali tim dengan bina jasmani (binjas-red) di pantai bama, lalu tim sarapan dan packing. Pukul 09.00 WIB tim berangkat menuju camp 3 di lempuyang dan mengurus perizinan di resort balanan.

Jalur menuju resort balanan berupa susur pantai, dengan vegetasai mangroove dan hutan pantai, selain itu tim juga melewati tebing karang. Untuk mencapai resort balanan tim memerlukan waktu sekitar 4,5 jam dengan berisirahat selama dua kali. Pukul 13.30 WIB tim tiba di resort balanan dan tim mengurus perizinan serta ISOMA. Pukul 14.30 WIB tim melanjutkan perjalanan menuju kampung lempuyang dengan informasi yang didapat dari petugas resort balanan.

Jalur yang dilewati menuju kampung lempuyang berupa jalan perkampungan (bisa dilewati kendaraan bermotor), lahan pertanian dan bukit-bukit savana. Waktu yang di tempuh tim menuju kampung lempuyang sekitar 1,5 jam dengan berisirahat sekitar 15 menit.

Pukul 16.00 tim tiba di camp 3 yaitu kampung lempuyang. Tim lalu emencari tempat strategis untunk mendirikan camp. Dalam ROP tempat camp kami adalah pantai lempuyang. Akan tetapi pantai lempuyang terletak dibalik tanjung yang akses jalannya sulit karena harus melewati tebing karang yang curam. Akirnya tim bemalam di pantai yang dekat dengan perkampungan.

Pantai yang terdapat di sepanjang perkampungan lempuyang cukup kotor dan banyak terdapat kapal-kapal nelayan. Hal ini di karenakan banyak masyarakat yang berternak sapi dan menggembalakan sapi di sepanjang pantai, hingga kotorannya membuat pantai tidak direkomendasikan untuk tempat wisata. Selain itu, kapal-kapal yang banyak berlabuh membuat kami harus berhati-hati saat berjalan, karena banyak tambang-tambang yang dibentangkan untuk mengikat perahu ke pohon.

Kamis, 28 juni 2012

Hari ke-4 operasi tim lebih santai. Karena sang danop, sang pendamping serta fotografer tim berenang cantik dulu di pantai lempuyang (cape deh). Tepat pukul 11.00 WIB tim berangkat menuju kampung merak (camp 4) dengan jalur yang kami lewati adalah jalur polisi hutan yang digunakan pula oleh masyarakat untuk jalur transportasi ke kampung merak.

Tim melakukan perjalanan ke kampung merak dari kampung lempuyangan selama 3 jam lebih 40 menit dengan istirahat selama 30 menit ditengah-tengah perjalanan. Selama perjalanan tim tidak susah mencari jalur, karena sepanjang jalan adalah perkampungan. Dengan kata lain hari ke-4 operasi tim melakukan penyusuran kampung.

Pukul 14.40 tim tiba di camp 4 yaitu kampung merak. Tim lalu menuju resort labuan merak untuk mengurus perizinan dan mendirikan camp. Akan tetapi tim diizinkan untuk bermalam di kantor resort labuhan merak. Disana kami tidak sendiri, karena kantor resort Labuan Merak digunakan untuk petugas resort sebagai tempat bermalam mereka.

Setelah melepas lelah dan membersihkan diri dari butiran debu, kami pun makan malam tepat pada pukul 19.30 WIB dilanjut dengan evaluasi dan briefing yang biasa kami lakukan setelah selesai berkegiatan seharian penuh.

Jumat, 29 Juni 2012

Hari ke 5 merupakan hari terakhir operasi. Perjalanan yang akan ditempuh dari kampung merak menuju titik akhir (resort karang tekok) sekitar 20 km, maka tim memulai perjalanan pada pukul 06.55 WIB (5 menit lebih awal dari waktu yang disepakati). Jalur yang dilewati didominasi oleh savana. Sejauh mata memandang hanya ada savana, sedikit pohon, sapi-sapi dan panas menyengat.

Waktu yang ditempuh oleh tim sekitar 10,5 jam dengan berkali-kali istirahat karena kondisi tim yang sudah lelah dan salah satu anggota tim mengtalami kram kaki. Tetapi hal ini dapat segera diatasi dengan perlengkapan medis yang dibawa.

Pukul 17.30 tim tiba di resort karang tekok dan langsung melakukan pelaporan pada petugas resort dan pelaporan ke sekre Mahatva. Tim beristirahat hingga pukul 18.00 lalu tim melanjutkan perjalanan ke kantor balai TNB dengan menggunakan angkutan umum (bis) untuk bermalam di kantor balai sebelum pulang ke bandung.

Sabtu, 30 Juni 2012

Pukul 21.00 WIB tim berangkat dari kantor balai TNB menuju St. Ketapang (Banyuwangi Baru) dengan menggunakan mobil carteran (Rp.100.000). sekitar pukul 22.10 WIB tim tiba di St. Ketapang lalu tim bermalam di stasiun menunggu keberangkatan kereta menuju Yogyakarta pada pukul 06.00 WIB.

Minggu, 1  Juli 2012

Pukul 06.00 WIB tim berangkat menuju St.Lempuyangan dengan menggunakan kereta api Sri Tanjung (Rp.35.000/org). Tim tiba di St.Lempuyangan pada pukul 20.30 WIB. Lalu tim beristirahat dan bermalam di Yogjakarta.

Senin, 2 Juli 2012

Pukul 08.00 WIB, tim menunggu waktu keberangkatan kereta dengan berjalan-jalan sekitar kawasan malioboro dan membeli beberapa oleh-oleh. Pukul 12.30 WIB tim berangkat menuju Bandung dengan menggunakan kereta api Pasundan (Rp.35.000/org).

Pukul 22.00 WIB tim tiba di St. Cicalengka, lalu tim melanjutkan perjalanan pulang ke sekre Mahatva dengan mencarter angkutan umum (Rp. 45.000). Pukul 23.30 WIB tim tiba di sekretariat Mahatva, lalu tim beristirahat.

PROGRAM PELATIHAN DAN PEMANTAPAN (PROGLANTAP)

Program Pelatihan dan Pemantapan merupakan pola pembinaan lanjutan setelah PDM XIX. Pola Pembinaan Mahatva ini merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan, baik itu anggota maupun calon anggota dalam kegiatan alam bebas, serta untuk memupuk rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan KMFP Unpad.

Tujuan :

  1. Mengembangkan kemampuan alam terbuka anggota muda dan anggota aktif Mahatva
  2. Menumbuhakn jiwa korsa anggota muda terhadap Mahatva
  3. Mengembangkan karakter positif anggota muda Mahatva.

Pendidikan Dasar Mahatva

             Keanggotaan di PMPR & PG Mahatva KMFP Unpad yaitu anggota muda, anggota biasa, dan anggota kehormatan. Pola pembinaan terdiri dari Pendidikan Dasar Mahatva untuk menjadi Anggota Muda Mahatva, Program Latihan dan Pemantapan untuk melatih kemampuan dan skill kealamterbukaan anggota muda, dan perjalanan (Ekspedisi) untuk menjadi Anggota Biasa Mahatva (keanggotaan penuh).
Tujuan Pendidikan Dasar Mahatva :
1. Mendekati diri serta mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa
2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dasar dan lanjutan dalam kegiatan alam terbuka
3. Membina sikap mental positif agar dapat mengetahui dan menghayati pentingnya kelestarian alam
4. Menyalurkan minat dan bakat mahasiswa FAPERTA UNPAD dalam kegiatan alam terbuka
5. Membantu membentuk mahasiswa agar menjadi insan pertanian yang siap terjun ke masyarakat sebagai pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
             Dalam Kegiatan Pendidikan Dasar Mahatva, Para siswa akan diberikan materi diantaranya :
1. Pembinaan Mental Jasmani.
2. Ilmu Medan Peta Kompas
3. Manajemen Perjalanan.
4. Mountainnering.
5. Survival.
6. Biologi dan Zoologi Praktis.
7. Penangulangan Pertama Gawat Darurat Kegiatan Alam Terbuka (PPGD-KAT).
8. Explorer Search And Rescue (SAR)
9. Olah Raga Arus Deras

Dasar Organisasi PMPR & PG Mahatva KMFP Unpad

      Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Mahatva adalah perhimpunan mahasiswa yang berdiri pada tanggal 28 November 1993 di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Mahatva berasal dari bahasa sansekerta yang berarti Pejuang Sejati. PMPR & PG Mahatva berdasarkan kekeluargaan, bersifat otonom yang menunjang keberadaan Badan Eksekutif MahasiswaKeluarga Mahasiswa, tidak menginduk, menganut maupun dipengaruhi oleh suatu golongan dan atau faham tertentu. saat ini keanggotaan mahatva mencapai
Tujuan Organisasi
1. Membentuk manusia yang selalu mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa.
2. Membentuk manusia yang memahami jati dirinya, terampil, berwawasan luas , peka terhadap lingkungan, alam dan kondisi masyarakat.
3. Membina anggotanya menjadi manusia yang berani, tabah, berjiwa petualang, bertanggung jawab, serta memiliki rasa persaudaraan antar anggota, sesama mahasiswa, dan sesama manusia.
4. Menyumbangkan tenaga, pikiran, dan dharma baktinya bagi almamater, bangsa, dan negara.