Category Archives: Anggota Muda

Taman Nasional Bali Barat

 Lintas Taman Nasional dan Pengaruh Pemanfaatan SDA Masyarakat Desa Sumberkelampok terhadap Habitat Jalak Bali
             Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Mahatva (PMPR & PG Mahatva) merupakan salah satu perhimpunan mahasiswa yang mewadahi mahasiswa fakultas pertanian yang memiliki ketertarikan dalam kegiatan di alam bebas. Dalam status keanggotaannya, ada beberapa jenis keanggotaan, yaitu Anggota Muda Mahatva (AMM),  Anggota Biasa(AB), Anggota Pasif (AP) serta Anggota Kehormatan (AK). Seluruh anggota yang masih berstatus AMM diharapkan dapat merubah status keanggotaannya menjadi AB. Untuk menjadi AB, seluruh AMM  harus melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan ini dapat berupa pendakian gunung, pemanjatan tebing, penyusuran pantai dan penyusuran sungai.
Saya dan beberapa rekan yang masih berstatus sebagai AMM membentuk satu tim dan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Mungkin masih banyak orang yang belum familiar tentang Taman Nasional ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa memang sebagian masyarakat Indonesia lebih mengenal pulau menjangan (pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional dan merupakan salah satu spot diving yang bagus di Indonesia) dibandingkan Taman Nasional Bali Barat sendiri.
TNBB terletak di ujung pulau Bali.Terbentang di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng. TNBB sendiri sebenarnya memiliki pantai yang tidak kalah bagus daripada  pantai yang terdapat di Pulau Menjangan. Selain memiliki keunggulan pada pantainya, Taman Nasional ini memiliki tempat penangkaran Burung Jalak Bali yang merupakan hewan endemic yang hanya terdapat di Bali Barat. Selain itu dalam Taman Nasional ini juga terdapat pura yang merupakan tempat sembahyang orang hindu. Ketiga hal diatas merupakan daya tarik tersendiri bagi TNBB.

Dalam perjalanan yang kami lakukan, kami menyempatkan untuk berkunjung ke tempat Penangkaran Jalak Bali yang terdapat di Tegal Bunder dan Brumbun. Ada perbedaan diantara kedua tempat penangkaran tersebut, di Tegal Bunder penangkaran Jalak Bali berupa tempat pengembangbiakan Jalak bali dari telur hingga Jalak Bali siap untuk di lepas ke alam bebas. Sedangkan di Brumbun, penangkaran berupa beberapa Jalak Bali yang sedang dalam proses adaptasi dengan alam bebas untuk selanjutnya siap dilepaskan.

                  Sepanjang perjalanan di Taman Nasional kami memilih melakukan perjalanan melewati jalur yang telah ada. Jalur ini dapat dilewati oleh kendaraan beroda dua dan beroda empat. Jalur ini sengaja dibuat untuk akses masyarakat yang ingin melakukan sembahyang di pura yang terdapat di daerah lampu merah. Pura ini dapat dikatakan merupakan pura yang paling besar dibandingkan pura-pura lain yang ada di dalam Taman Nasional. Sayangnya pura yang ada dalam Taman Nasional tidak dapat kami dokumentasikandalam bentuk gambar.

Di sepanjang jalur menuju daerah Lampu Merah ini kami melewati beberapa pantai yang memiliki pemandangan yang sangat bagus. Pantai yang ada juga memiliki pasir yang putih, bersih dan halus. Bahkan air laut disana memiliki gradasi warna yang sangat indah serta jernih. Bahkan pada saat airnya surut, kami bisa menemukan beberapa biota laut, diantaranya bintang laut, ikan-ikan kecil, belut laut, ubur – ubur serta keong laut.

Selama perjalanan kami juga dapat menemukan beberapa hewan liar yang ada di dalam Taman Nasional, diantaranya monyet ekor panjang, rusa, babi hutan, dan elang. Dalam perjalanan menuju Desa Sumberklampok kami melewati daerah padang rumput yang dijadikan oleh masyarakat sekitar sebagai tempat menggembalakan sapi dan kerbau milik mereka.

Mudah-mudahan tulisan kami ini dapat membuktikan bahwa memang pemandangan alam yang ada dalam Taman Nasional Bali Barat tidak dapat dipandang sebelah mata dan disepelekan, karena menurut kami masing-masing tempat wisata pasti memiliki ke-khasan keindahan alamnya masing-masing.

Gunung Agung, Bali

Pendakian Jalur Junggul – Besakih dan Pendokumentasian Cemara Berdarah

Perjalanan Gunung Agung dilakoni oleh beberapa anggota muda Mahatva dalam rangka perjalanan mendapatkan nomor pokok anggota. Anggota muda Mahatva tersebut terdiri dari Dinan Nurhayat, Al-Maula Rijal, Aldy M. Faiz, Aldi Guntara, dan Daniel Karel yang mana memiliki satu visi dan tujuan dalam melakukan perjalanan anggota muda ini dan tentunya sebelumnya di pendidikan dasar sudah ditempa menjadi satu jiwa oleh badai, angin, dan kabut. Gunung hutan adalah medan yang ingin ditempuh oleh kami, setelah mencari-cari tempat perjalanan maka dipilihlah Gunung Agung Bali. Pemilihan ini dikarenakan Gunung Agung merupakan gunung yang diistimewakan oleh masyarakat Bali sebagai gunung paling suci. Kemudian Gunung Agung juga memiliki jalur baru yang menarik untuk didokumentasikan dan juga akan adanya rumor mengenai pohon cemara berdarah yang konon menurut masyarakat bisa dijadikan obat.

Perjalanan dimulai pada tanggal 29 Juni 2012, tim melakukan upacara pelepasan di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran terlebih dahulu. Setelah upacara kami pun bergegas ke rumah dinan untuk transit dahulu sebelum berangkat ke Bali dari Cicaheum. Setelah melakukan persiapan terakhir, kami pun berangkat ke Cicaheum, dan dari sana kami berangkat menggunakan bis Kramat Djati. Sesampainya di Cileunyi, kami menjemput pendamping perjalanan kami terlebih dahulu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kang Are. Setelah itu perjalanan menuju Bali dilanjutkan masih menggunakan bis Kramat Djati yang kami percaya akan membawa kami ke Bali. Setelah perjalanan darat yang cukup panjang, akhirnya kami menginjakan kaki di pulau dewata pada tanggal 30 Juni 2012, sekitar Pukul 21.20 WITA. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Terminal Mengwi yang merupakan tempat pemberhentian dari bis Kramat Djati. Tetapi setelah bertukar pikiran dengan pengemudi bis, kami mendapatkan informasi mengenai kendaraan selanjutnya yang akan kami tumpangi menuju daerah Besakih. Sekitar pukul 00.20 WITA kami diturunkan sebelum Mengwi, karena kendaraan tumpangan kami yang selanjutnya sudah menjemput. Disitulah kami berpisah dengan bis Kramat Djati dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil angkot charteran menuju Besakih. Tim kami tiba di Besakih sekitar pukul 2.20 WITA, dan tim segera bergegas mencari tempat istirahat. Tim baru beristirahat sekitar pukul 3 WITA.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 WITA, tim pun segera bangun dan bersiap-siap karena pagi itu juga tim akan mendaki gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung. Meskipun hanya tidur sebentar, tim tetap semangat untuk menapakan kaki di puncak tertinggi Gunung Agung. Dari Besakih kami berpindah ke Jugul yang merupakan titik awal pendakian kami dan letaknya tidak terlalu jauh dari Besakih. Pendakian dimulai sekitar pukul 9.45 WITA, dan di awal jalur jugul kami harus memotong jalur menyusuri punggungan menuju jalur temukus karena di jalur inilah pohon cemara berdarah tersebut berada. Sepanjang jalan kami menemukan hal yang baru kami lihat, terdapat ladang bunga edelweiss. Bunga edelweiss tersebut digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Setelah berjalan dan terus berjalan, akhirnya kami menemukan pohon cemara berdarah tersebut. Disana kami mndokumentasikan pohon tersebut dan mengambil samplenya juga sambil kami istirahat dan makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA. Sekitar sejam kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan turun menyusur punggungan kembali untuk masuk kembali ke jalur jugul. Di perjalanan kami menemukan bekas aliran lava sewaktu Gunung Agung meletus dahulu kala. Akhirnya kami pun berada di jalur jugul kembali dan melanjutkan perjalanan ke titik camp. Medan yang terus menanjak menguras stamina kami semua dan menuntut kami untuk tetap tabah. Akhirnya setelah cukup lama berjalan, kami sampai di titik camp dan matahari pun sudah mulai terbenam digantikan oleh bulan yang malu-malu menampakan dirinya. Di tempat camp tersebut kami mendirikan tenda, memasak, makan malam, dan beristirahat. Pukul 22.00 WITA kami pun memutuskan untuk beristirahat, dinginnya cuaca yang menusuk tidak bisa menghentikan tubuh kami semua yang ingin beristirahat setelah berjalan seharian.

Esok harinya sekitar pukul 03.30 WITA kami bangun dan bersiap untuk melancarkan summit attack. Akhirnya perjalanan menuju puncak kami lanjutkan kembali dengan medan yang terus menerus menanjak seolah tak ada habisnya. Medan yang kami lewati berupa batuan-batuan besar dan ketika batas vegetasi medannya menjadi pasir bercampur kerikil yang menuntuk kehati-hatian kami karena jalan yang licin dan disamping kami terdapat jurang yang bisa saja mencelakakan kami jika kami tidak waspada. Akhirnya pukul 6.30 WITA kami sampai di puncak Gunung Agung yang berketinggian 3.142 mdpl. Puncak tersebut berada di atas awan, seolah membawa kami berada di negeri di atas awan. Dapat terlihat puncak Gunung Rinjani di kejauhan dan kawah Gunung Batur yang sangat memanjakan mata, indah sekali. Kami juga berkesempatan melihat matahari mulai terbit dan mulai menampakan sinarnya yang menyinari bumi ini. Tak lupa, di puncak kami bersyukur kepada tuhan yang maha kuasa dengan melakukan shalat shubuh berjamaah di puncak. Ketika shalat tubuh kami tak henti-hentinya menggigil karena dinginnya cuaca di atas sana. Sampai ingus pun terus mengalir tanpa dikomando. Tak lupa kami mengibarkan panji mahatva di atas Gunung Agung, dan mengabadikan momen-momen tersebut dengan foto-foto.

Setelah itu kami pun turun kembali menuju ttitik camp, untuk bersiap-siap turun dari Gunung Agung. Selesai membersihksn camp, kami pun bergegas turun. Medannya menjadi turunan yang cukup curam dengan medan tanah pasir bercampur dengan  kerikil sehingga akan sangat licin. Beberapa anggota sempat jatuh bangun dan tersungkur. Akhirnya setelah berjalan terus melewati medan turunan jalur jugul kami sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami pun ikut mandi di rumah warga. Beres membersihkan diri kami beristirahat dan mencari tempat istirahat. Akhirnya kami ditawarkan untuk menginap di sekretariatan Betalgo. Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan bersiap untuk jalan-jalan menikmati keindahan pulau dewata terlebih dahulu sebelum kami kembali pulang ke Jatinangor. Puas berkeliling dan membeli beberapa oleh-oleh kami akhirnya pulang kembali menuju sektretariat Mahatva di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Kami sampai kembali di sekretariat Mahatva pada tanggal 5 Juli 2012, dengan ini berakhirlah perjalanan menggapai puncak tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Pantai Selatan Belitung

Penyusuran Pantai dan Pendokumentasian Vegetasi di Sepanjang Jalur Ujung Gresik – Tanjung Rusa serta Daya Tarik Pantai Batu Lubang

Perjalanan yang dilakukan oleh Tim Belitung PMPR & PG Mahatva Faperta Unpad yaitu Penyusuran Pantai dan Pendokumentasian Vegetasi Disepanjang Jalur Gresik – Tanjung Rusa Serta Daya Tarik Potensi Wisata Pantai Batu Lubang. Tujuan dari Perjalanan ini adalah untuk menggali potensi Pantai Selatan Belitung yang dilaksanakan pada tanggal 30 Juni – 10 Juli 2012.

Tim Belitung Terdiri dari Amana Ratna, Yitzhak Nazareth   , Djaka Padmaprasetya, Khanif Alfian, Muhammad Ali Akbar, dan Noval. Perjalanan ini adalah perjalanan anggota muda dengan tujuan pengambilan Nomor Pokok Anggota (NPA) di PMPR & PG Mahatva Faperta Unpad.

Pendokumentasian Vegetasi Disepanjang Jalur Gresik – Tanjung Rusa

Jarak yang ditempuh oleh tim yaitu 54,6 km. Rute yang dilewati oleh tim yaitu :

  1. Pantai Ujung Gresik.
  2. Dusun Padang Kandis.
  3. Pantai Teluk Gembira.
  4. Pantai Awan Mendung.
  5. Pantai Tanjung Kiras.
  6. Pantai Batu Belah.
  7. Pantai Batu Lubang.
  8. Gunung Kura.
  9. Desa Gunung Riting.
  10. Dusun Cepun.
  11. Dusun Sabung.
  12. Desa Tanjung Rusa.

Taman Nasional Baluran

Studi Masyarakat Kampung Merak dalam Mempertahankan Usahatani

Taman Nasional Baluran (TNB) adalah suatu kawasan konservasi yang terletak di ujung Timur Pulau Jawa tepatnya sebelah utara  Banyuwangi  Jawa Timur. Letak geografisnya terletak diantara 1140 18’ – 1140 27’ Bujur Timur dan 70 45’ – 70 57’ Lintang Selatan. Kawasan TNB ditetapkan memiliki luas sebesar 25.000 Ha wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan.Sesuai dengan peruntukkannya luas kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa zona yang terdiri dari :

  1. Zona inti seluas 12.000 Ha.
  2. Zona rimba seluas 5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha).
  3. Zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 Ha
  4. Zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan zona rehabilitasi seluas 783 Ha.

Pengelolaan kawasan TN Baluran dibagi menjadi dua Seksi Pengelolaan Taman Nasional, yaitu: Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Bekol, meliputi Resort Bama, Lempuyang dan Perengan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karangtekok meliputi Resort Watu Numpuk, Labuhan Merak dan Bitakol.

Awalnya Taman Nasional Baluran merupakan Suaka Margasatwa dan baru ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional pada tahun 1997. Didalam kawasan Taman Nasional terdapat beberapa perkampungan yang seharusnya tidak ada dalam kawasan konservasi.

Sekitar tahun 1975 mentri dalam negeri memberikan izin Hak Guna Usaha (HGU) kepada PT. Gunung Gumintir melalui SK Nomor 16/HGU/DA/1975. Pada tahun 2000 PT. Gunung Gumintir gulung tikar dan tidak bertanggung jawab terhadap Para  pekerja, sehingga pekerja kehilangan matapencaharian, yang pada akhirnya mereka tetap tinggal di kawasan Taman Nasional Baluran hingga saat ini. Matapencaharian masyarakat kawasan Taman Nasional sebagian besar adalah sebagai peternak sapi yang digembalakan di savana-savana yang banyak terdapat di TNB.Akan tetapi masih ada sebagian masyarakat yang memilih untuk bertani di kawasan TNB.

Tim Tarantula pada tanggal 23 juni – 2 Juli 2012 melakukan Lintas Taman Nasional Baluran. Tim berangkat dari sekre pada sabtu, tanggal 23 juni 2012 pukul 04.00 WIB menuju St. Kiaracondong dengan menggunakan mobil pribadi. Perjalanan sekitar 1 jam untuk mencapai St.kiaracondong.

Pukul 06.00 tim berangkat menuju St. Lempuyangan ( Yogyakarta) dengan menggunakan kereta api Pasundan (Rp. 35.000). pukul 14.55 WIB tim tiba di St.Lempuyangan dan ISOMA selama 1 jam lebih 50 menit. Karena tiket kereta menuju banyuwangi tersisa 4 tiket, tim lalu menggunakan plan B yaitu berangkat menuju  Banyuwangi dengan menggunakan bis.

Pukul 15.45 WIB tim berangkat menuju terminal Giwangan denggan menggunakan mobil carteran (Rp.30.000). tim tiba di stasium Giwangan pukul 16.05 WIB. Hingga pukul 17.10 WIB, tim menunggu bis yang akan menuju Banyuwangi (bis AKAAS). Perjalanan dari terminal Giwangan hingga terminal Karangente ditempuh dengan waktu 15 jam  dengan biaya Rp.88.000/org.

Minggu, 24 juni 2012 tim tiba di terminal Karangente pada pukul 07.40 WIB. Tim melanjutkan perjalanan ke terminal Katapang dengan mencarter angkot (Rp.50.000) dan tiba pada pukul 08.10 WIB. Tim lalu melanjutkan perjalanan ke kantor balai TNB menggunakan bis jurusan Banyuwangi-Situbondo (Rp.8.000/org) dan Tim tiba di kantor balai TNB pada pukul 09.17 WIB. Tim lalu beristirahat di kantor balai karena tim datang pada hari minggu, maka tim tidak dapat mengurus SIMAKSI.

Senin, 25 Juni 2012

Hari ke-1 operasi dimulai dengan mengurus izin (SIMAKSI) setelah beradu argumen, mengisi formulir ini itu dan di oper dari satu orang ke orang lain, akhirnya tim mendapatkan SIMAKSI.

Tim Tarantula melakukan Lintas Taman Nasional Baluran dari jalur Selatan ke Utara. Titik awal dimulai di desa Pandean pada hari senin pukul 10.15 WIB. Tujuan utama titik camp berada di tanjung tjandibang, sepanjang perjalanan kami menyusuri pantai berpasir hitam, disana terdapat beberapa masyarakat yang mencari kerang untuk dijadikan aksesoris yang kemudian akan mereka jual.

Pada pukul 16.10 WIB tim sampai di tanjung tjandibang. Tanjung tjandibang ini meupakan tempat berziarah masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya, terdapat makam dan sumur yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar. Tanjung tjandibang ini akan diramaikan oleh peziarah pada hari Kamis malam Jumat.

Hari selasa 26 Juni 2012 tim berjalan dari tanjung tjandibang menuju pantai Bama. Medan yang dilalui adalah pantai, hutan mangrove dan rawa asin, padang rumput savana, dan hutan payau. Perjalanan menuju pantai Bama ditempuh dalam waktu 7 jam. Mungkin perjalanan bisa lebih singkat jika istirahat tidak terlalu lama dan  tidak bermain-main dahulu (baca : nyasar). Perjalanan yang memakan waktu lama ini dikarenakan vegetasai yang dilewati tim sebagian besar adalah hutan mangroove yang lebat sehingga menyusahkan tim untuk resection.

Karena hutan mangroove yang lebat membuat tim memilih untuk menyusuri pantai, akan tetapi karena terlalu terlena oleh view yang nice sehingga kami tidak menyadari bahwa jalur yang kami lewati adalah jalur yang menuju hutan mangroove tak berujung (tidak bisa dilewati-red). Akhirnya tim beristirahat untuk makan siang dan lenye-lenye di teluk yang dikelilingi oleh pohon-pohon bakau.”nice,,, hidup ini memang indah bung!!” kata Tarantula.

Setelah tenaga terkumpul kembali, tim memutuskan untuk menyusuri kembali ke jalur tadi (sebelum nyasar-red). Sekitar pukul 14.00 kami menemukan jalur yang kami peroleh dari informan di tanjung tjandibang. Dan kami menyusuri jalur patroli hutan. Akan tetapi kami lagi-lagi terkecoh oleh jalur yang sangat banyak dan membingungkan kami untuk resection karena vegetasinya adalah hutan dengan pohon yang tinggi dan cukup rapat. Akhirnya tim memilih untuk berjalan kearah pantai agar dapat orientasi medan. Akan tetapi tim tidak menemukan pantai melainkan masuk semakin dalam ke hutan mangroove dan kami mengambil kesimpulan yang teramat pahit : nyasar untuk kedua kalinya!

Alhamdulilah berkat keinginan kami yang kuat untuk tidur dan kekuatan danop untuk membuka jalur dengan bantuan feeling danop (karena kata egis danop aing kumaha aing ), akhirnya kami menemukan jalur patroli menuju pantai Bama, yeeey!!!

Singkat cerita, kami sampai di pantai bama pada pukul 17.00 WIB. Dan kami membagi tim menjadi dua, untuk melapor ke resort bekol dan tim lainnya mendirikan camp tepat di pinggir pantai bama.

Pantai bama merupakan pantai yang memiliki daya tarik wisatawan ketika mengunjungi TNB. Karena letaknya tidak jauh dari savana bekol yang merupakan tempat favorit di TNB, wisatawan di pantai bama dapat menikmati pemandangan sunrise dan sunset serta dapat berwisata air seperti bermain kano.

Rabu, 27 Juni 2012.

Hari ke-3 oprasi diawali tim dengan bina jasmani (binjas-red) di pantai bama, lalu tim sarapan dan packing. Pukul 09.00 WIB tim berangkat menuju camp 3 di lempuyang dan mengurus perizinan di resort balanan.

Jalur menuju resort balanan berupa susur pantai, dengan vegetasai mangroove dan hutan pantai, selain itu tim juga melewati tebing karang. Untuk mencapai resort balanan tim memerlukan waktu sekitar 4,5 jam dengan berisirahat selama dua kali. Pukul 13.30 WIB tim tiba di resort balanan dan tim mengurus perizinan serta ISOMA. Pukul 14.30 WIB tim melanjutkan perjalanan menuju kampung lempuyang dengan informasi yang didapat dari petugas resort balanan.

Jalur yang dilewati menuju kampung lempuyang berupa jalan perkampungan (bisa dilewati kendaraan bermotor), lahan pertanian dan bukit-bukit savana. Waktu yang di tempuh tim menuju kampung lempuyang sekitar 1,5 jam dengan berisirahat sekitar 15 menit.

Pukul 16.00 tim tiba di camp 3 yaitu kampung lempuyang. Tim lalu emencari tempat strategis untunk mendirikan camp. Dalam ROP tempat camp kami adalah pantai lempuyang. Akan tetapi pantai lempuyang terletak dibalik tanjung yang akses jalannya sulit karena harus melewati tebing karang yang curam. Akirnya tim bemalam di pantai yang dekat dengan perkampungan.

Pantai yang terdapat di sepanjang perkampungan lempuyang cukup kotor dan banyak terdapat kapal-kapal nelayan. Hal ini di karenakan banyak masyarakat yang berternak sapi dan menggembalakan sapi di sepanjang pantai, hingga kotorannya membuat pantai tidak direkomendasikan untuk tempat wisata. Selain itu, kapal-kapal yang banyak berlabuh membuat kami harus berhati-hati saat berjalan, karena banyak tambang-tambang yang dibentangkan untuk mengikat perahu ke pohon.

Kamis, 28 juni 2012

Hari ke-4 operasi tim lebih santai. Karena sang danop, sang pendamping serta fotografer tim berenang cantik dulu di pantai lempuyang (cape deh). Tepat pukul 11.00 WIB tim berangkat menuju kampung merak (camp 4) dengan jalur yang kami lewati adalah jalur polisi hutan yang digunakan pula oleh masyarakat untuk jalur transportasi ke kampung merak.

Tim melakukan perjalanan ke kampung merak dari kampung lempuyangan selama 3 jam lebih 40 menit dengan istirahat selama 30 menit ditengah-tengah perjalanan. Selama perjalanan tim tidak susah mencari jalur, karena sepanjang jalan adalah perkampungan. Dengan kata lain hari ke-4 operasi tim melakukan penyusuran kampung.

Pukul 14.40 tim tiba di camp 4 yaitu kampung merak. Tim lalu menuju resort labuan merak untuk mengurus perizinan dan mendirikan camp. Akan tetapi tim diizinkan untuk bermalam di kantor resort labuhan merak. Disana kami tidak sendiri, karena kantor resort Labuan Merak digunakan untuk petugas resort sebagai tempat bermalam mereka.

Setelah melepas lelah dan membersihkan diri dari butiran debu, kami pun makan malam tepat pada pukul 19.30 WIB dilanjut dengan evaluasi dan briefing yang biasa kami lakukan setelah selesai berkegiatan seharian penuh.

Jumat, 29 Juni 2012

Hari ke 5 merupakan hari terakhir operasi. Perjalanan yang akan ditempuh dari kampung merak menuju titik akhir (resort karang tekok) sekitar 20 km, maka tim memulai perjalanan pada pukul 06.55 WIB (5 menit lebih awal dari waktu yang disepakati). Jalur yang dilewati didominasi oleh savana. Sejauh mata memandang hanya ada savana, sedikit pohon, sapi-sapi dan panas menyengat.

Waktu yang ditempuh oleh tim sekitar 10,5 jam dengan berkali-kali istirahat karena kondisi tim yang sudah lelah dan salah satu anggota tim mengtalami kram kaki. Tetapi hal ini dapat segera diatasi dengan perlengkapan medis yang dibawa.

Pukul 17.30 tim tiba di resort karang tekok dan langsung melakukan pelaporan pada petugas resort dan pelaporan ke sekre Mahatva. Tim beristirahat hingga pukul 18.00 lalu tim melanjutkan perjalanan ke kantor balai TNB dengan menggunakan angkutan umum (bis) untuk bermalam di kantor balai sebelum pulang ke bandung.

Sabtu, 30 Juni 2012

Pukul 21.00 WIB tim berangkat dari kantor balai TNB menuju St. Ketapang (Banyuwangi Baru) dengan menggunakan mobil carteran (Rp.100.000). sekitar pukul 22.10 WIB tim tiba di St. Ketapang lalu tim bermalam di stasiun menunggu keberangkatan kereta menuju Yogyakarta pada pukul 06.00 WIB.

Minggu, 1  Juli 2012

Pukul 06.00 WIB tim berangkat menuju St.Lempuyangan dengan menggunakan kereta api Sri Tanjung (Rp.35.000/org). Tim tiba di St.Lempuyangan pada pukul 20.30 WIB. Lalu tim beristirahat dan bermalam di Yogjakarta.

Senin, 2 Juli 2012

Pukul 08.00 WIB, tim menunggu waktu keberangkatan kereta dengan berjalan-jalan sekitar kawasan malioboro dan membeli beberapa oleh-oleh. Pukul 12.30 WIB tim berangkat menuju Bandung dengan menggunakan kereta api Pasundan (Rp.35.000/org).

Pukul 22.00 WIB tim tiba di St. Cicalengka, lalu tim melanjutkan perjalanan pulang ke sekre Mahatva dengan mencarter angkutan umum (Rp. 45.000). Pukul 23.30 WIB tim tiba di sekretariat Mahatva, lalu tim beristirahat.