Gunung Agung, Bali

Pendakian Jalur Junggul – Besakih dan Pendokumentasian Cemara Berdarah

Perjalanan Gunung Agung dilakoni oleh beberapa anggota muda Mahatva dalam rangka perjalanan mendapatkan nomor pokok anggota. Anggota muda Mahatva tersebut terdiri dari Dinan Nurhayat, Al-Maula Rijal, Aldy M. Faiz, Aldi Guntara, dan Daniel Karel yang mana memiliki satu visi dan tujuan dalam melakukan perjalanan anggota muda ini dan tentunya sebelumnya di pendidikan dasar sudah ditempa menjadi satu jiwa oleh badai, angin, dan kabut. Gunung hutan adalah medan yang ingin ditempuh oleh kami, setelah mencari-cari tempat perjalanan maka dipilihlah Gunung Agung Bali. Pemilihan ini dikarenakan Gunung Agung merupakan gunung yang diistimewakan oleh masyarakat Bali sebagai gunung paling suci. Kemudian Gunung Agung juga memiliki jalur baru yang menarik untuk didokumentasikan dan juga akan adanya rumor mengenai pohon cemara berdarah yang konon menurut masyarakat bisa dijadikan obat.

Perjalanan dimulai pada tanggal 29 Juni 2012, tim melakukan upacara pelepasan di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran terlebih dahulu. Setelah upacara kami pun bergegas ke rumah dinan untuk transit dahulu sebelum berangkat ke Bali dari Cicaheum. Setelah melakukan persiapan terakhir, kami pun berangkat ke Cicaheum, dan dari sana kami berangkat menggunakan bis Kramat Djati. Sesampainya di Cileunyi, kami menjemput pendamping perjalanan kami terlebih dahulu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kang Are. Setelah itu perjalanan menuju Bali dilanjutkan masih menggunakan bis Kramat Djati yang kami percaya akan membawa kami ke Bali. Setelah perjalanan darat yang cukup panjang, akhirnya kami menginjakan kaki di pulau dewata pada tanggal 30 Juni 2012, sekitar Pukul 21.20 WITA. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Terminal Mengwi yang merupakan tempat pemberhentian dari bis Kramat Djati. Tetapi setelah bertukar pikiran dengan pengemudi bis, kami mendapatkan informasi mengenai kendaraan selanjutnya yang akan kami tumpangi menuju daerah Besakih. Sekitar pukul 00.20 WITA kami diturunkan sebelum Mengwi, karena kendaraan tumpangan kami yang selanjutnya sudah menjemput. Disitulah kami berpisah dengan bis Kramat Djati dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil angkot charteran menuju Besakih. Tim kami tiba di Besakih sekitar pukul 2.20 WITA, dan tim segera bergegas mencari tempat istirahat. Tim baru beristirahat sekitar pukul 3 WITA.

Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 WITA, tim pun segera bangun dan bersiap-siap karena pagi itu juga tim akan mendaki gunung tertinggi di Bali, Gunung Agung. Meskipun hanya tidur sebentar, tim tetap semangat untuk menapakan kaki di puncak tertinggi Gunung Agung. Dari Besakih kami berpindah ke Jugul yang merupakan titik awal pendakian kami dan letaknya tidak terlalu jauh dari Besakih. Pendakian dimulai sekitar pukul 9.45 WITA, dan di awal jalur jugul kami harus memotong jalur menyusuri punggungan menuju jalur temukus karena di jalur inilah pohon cemara berdarah tersebut berada. Sepanjang jalan kami menemukan hal yang baru kami lihat, terdapat ladang bunga edelweiss. Bunga edelweiss tersebut digunakan untuk upacara-upacara keagamaan. Setelah berjalan dan terus berjalan, akhirnya kami menemukan pohon cemara berdarah tersebut. Disana kami mndokumentasikan pohon tersebut dan mengambil samplenya juga sambil kami istirahat dan makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WITA. Sekitar sejam kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan turun menyusur punggungan kembali untuk masuk kembali ke jalur jugul. Di perjalanan kami menemukan bekas aliran lava sewaktu Gunung Agung meletus dahulu kala. Akhirnya kami pun berada di jalur jugul kembali dan melanjutkan perjalanan ke titik camp. Medan yang terus menanjak menguras stamina kami semua dan menuntut kami untuk tetap tabah. Akhirnya setelah cukup lama berjalan, kami sampai di titik camp dan matahari pun sudah mulai terbenam digantikan oleh bulan yang malu-malu menampakan dirinya. Di tempat camp tersebut kami mendirikan tenda, memasak, makan malam, dan beristirahat. Pukul 22.00 WITA kami pun memutuskan untuk beristirahat, dinginnya cuaca yang menusuk tidak bisa menghentikan tubuh kami semua yang ingin beristirahat setelah berjalan seharian.

Esok harinya sekitar pukul 03.30 WITA kami bangun dan bersiap untuk melancarkan summit attack. Akhirnya perjalanan menuju puncak kami lanjutkan kembali dengan medan yang terus menerus menanjak seolah tak ada habisnya. Medan yang kami lewati berupa batuan-batuan besar dan ketika batas vegetasi medannya menjadi pasir bercampur kerikil yang menuntuk kehati-hatian kami karena jalan yang licin dan disamping kami terdapat jurang yang bisa saja mencelakakan kami jika kami tidak waspada. Akhirnya pukul 6.30 WITA kami sampai di puncak Gunung Agung yang berketinggian 3.142 mdpl. Puncak tersebut berada di atas awan, seolah membawa kami berada di negeri di atas awan. Dapat terlihat puncak Gunung Rinjani di kejauhan dan kawah Gunung Batur yang sangat memanjakan mata, indah sekali. Kami juga berkesempatan melihat matahari mulai terbit dan mulai menampakan sinarnya yang menyinari bumi ini. Tak lupa, di puncak kami bersyukur kepada tuhan yang maha kuasa dengan melakukan shalat shubuh berjamaah di puncak. Ketika shalat tubuh kami tak henti-hentinya menggigil karena dinginnya cuaca di atas sana. Sampai ingus pun terus mengalir tanpa dikomando. Tak lupa kami mengibarkan panji mahatva di atas Gunung Agung, dan mengabadikan momen-momen tersebut dengan foto-foto.

Setelah itu kami pun turun kembali menuju ttitik camp, untuk bersiap-siap turun dari Gunung Agung. Selesai membersihksn camp, kami pun bergegas turun. Medannya menjadi turunan yang cukup curam dengan medan tanah pasir bercampur dengan  kerikil sehingga akan sangat licin. Beberapa anggota sempat jatuh bangun dan tersungkur. Akhirnya setelah berjalan terus melewati medan turunan jalur jugul kami sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami pun ikut mandi di rumah warga. Beres membersihkan diri kami beristirahat dan mencari tempat istirahat. Akhirnya kami ditawarkan untuk menginap di sekretariatan Betalgo. Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan bersiap untuk jalan-jalan menikmati keindahan pulau dewata terlebih dahulu sebelum kami kembali pulang ke Jatinangor. Puas berkeliling dan membeli beberapa oleh-oleh kami akhirnya pulang kembali menuju sektretariat Mahatva di kampus Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Kami sampai kembali di sekretariat Mahatva pada tanggal 5 Juli 2012, dengan ini berakhirlah perjalanan menggapai puncak tertinggi di Bali, Gunung Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>