Sunda Lesser Island

Ekspedisi Sunda Lesser Island
Dokumentasi Video

                   Mahasiswa sebagai anggota masyarakat ilmiah selain dituntut untuk dapat mengembangkan daya nalar dan penelitiannya terhadap ilmu pengetahuan, juga diharapkan untuk turut serta menanggapi dan turut memecahkan  permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hal ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat. Untuk itu mahasiswa diharapkan dapat peka terhadap lingkungannya dan mengaplikasikan segala kemampuannya untuk lingkungannya tersebut.
Perhimpunan Mahasiswa Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Mahatva (PMPR & PG Mahatva) adalah salah satu perhimpunan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran yang bergerak di kegiatan alam terbuka, merupakan suatu wadah bagi komponen warga Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (KMFP UNPAD) untuk menyalurkan minat bakat bahkan tempat menempa ilmu pertanian, karena kegiatan PMPR & PG Mahatva terintegrasi dengan ilmu pertanian.
Indonesia secara geografis terbagi menjadi tiga kawasan yaitu Kawasan Paparan Sunda, Kawasan Wallacean dan Kawasan Paparan Sahul. Kawasan Paparan Sunda terdiri dari Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Kawasan Wallacean yang merupakan kawasan peralihan terdiri dari Pulau Sulawesi, Sunda Lesser Island dan Kepulauan Maluku. Kawasan Paparan Sahul terdiri dari Pulau Irian Jaya dan Kepulauan Aru. Kawasan Sunda Lesser Island merupakan kawasan peralihan dari kedua paparan yang ada di kawasan timur dan barat, sehingga terdapat perbedaan yang mencolok antara flora kawasan barat Indonesa yang bertipe Asia dan kawasan timur Indonesia yang bertipe Australia (Van Welzen et al, 2011).
Perbedaan geografis menyebabkan perbedaan lingkungan tumbuh dari masing-masing kawasan tersebut, sehingga berpengaruh terhadap karakteristik morfologi dan fisiologi di masing-masing kawasan tersebut (Enquist et al, 2006). Perbedaan karakter morfologi dan fisiologi dapat digunakan untuk beberapa kepentingan salah satunya adalah sebagai penduga tanaman potensi pangan dan obat. Selain itu karakter morfologi dan fisiologi merupakan hal yang sangat penting dalam konservasi plasma nutfah (Frankel, 1984).
               Wilayah spesifik dari kawasan Sunda Lesser Island yang dijadikan tempat observasi adalah Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu. Pemilihan taman nasional sebagai tempat observasi dikarenakan taman nasional merupakan wilayah konservasi in-situ yang paling terjaga kondisi keseimbangan ekosistem aslinya (Mackinnon et al, 1993). Kedua taman nasional itu memiliki hutan tropis dari vegetasi pantai sampai vegetasi montana yang mewakili seluruh Kawasan Sunda Lesser Island.
Dengan potensi flora kawasan yang tinggi, maka eksplorasi dan inventarisasi plasma nutfah pangan dan obat yang tumbuh di Sunda Lesser Island perlu dilakukan untuk memperoleh data dan memberikan informasi kepada masyarakat umum berupa potensi tanaman Indonesia sebagai bahan pangan alternatif dan obat. Tersedianya informasi yang lengkap akan memudahkan pemanfaatan plasma nutfah flora potensi pangan dan obat sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai produk pertanian.
                     Eksplorasi plasma nutfah flora potensi pangan dan obat dilakukan secara terpisah berdasarkan kawasan taman nasional yaitu Taman Nasional Kelimutu dan Taman Nasional Komodo. Hasil dari eksplorasi kedua kawasan taman nasional tersebut yaitu  telah terkoleksinya 9 jenis flora potensi pangan dan 21 flora potensi obat.

Masyarakat sekitar kawasan hutan taman nasional menggunakan padi atau beras sebagai pangan utama mereka, namun pada saat-saat tertentu, seperti kondisi musim kering, mereka menggunakan pangan-pangan alternatif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jenis tumbuhan tersebut memiliki keragaman habitus dari mulai pohon hingga perdu, yang dikumpulkan dari berbagai macam tipe ekosistem hutan. Namun habitus pohon mendominasi dari keseluruhan spesies pangan alternatif yang didapatkan di kawasan penelitian. Sebanyak 7 jenis pangan alternatif yang memiliki habitus pohon. Berbagai macam bentuk pengolahan dilakukan untuk memenuhi standar selera dari masing-masing masyarakat, namun cara terbaik yaitu dengan memanfaatkan sari pati dari tanaman tersebut dan menjadikannya sebagai tepung. Ketersediaan pangan alternatif tersebut sangat terbatas, karena hanya sedikit masyarakat yang membudidayakan tanaman-tanaman tersebut. Sebagian besar masyarakat mendapatkan pangan alternatif dengan cara mengambil dari hutan. Sebanyak 4 jenis tumbuhan yang digunakan bijinya untuk dimanfaatkan sebagai pangan (Sorghum bicolor, Coix lacryma, Zea mays, dan Sterculia feotida), 3 jenis yang dimanfaatkan batangnya (Corypha gebanga, Corypha utan dan Borassus flebellifer), 4 jenis yang dimanfaatkan buahnya (Borassus flabellifer, Cycas rumphii, Manilkara kauki dan Uvaria rupa), 1 jenis yang dimanfaatkan umbinya (Dioscorea hispida), dan 1 jenis yang dimanfaatkan daunnya (Ocimum sanctum).

                      Tumbuhan potensi obat sebagian besar merupakan tumbuhan liar yang hidup di kawasan hutar sekitar taman nasional. Masyarakat sekitar kawasan hutan pun banyak yang memanfaatkan keseluruhan tumbuhan potensi obat yang kami koleksi sebagai obat tradisional. Pemanfaatan obat tradisional baru dicatat sebagai kearifan pengetahuan penduduk lokal, karena belum dilakukannya uji kandungan alkaloid maupun uji kandungan kimia. Tumbuhan potensi obat yang digunakan yaitu Jatropha curcas, Chromolaena odorata, Caesalpiniea sappan, Kalanchoe pinnata, Dampat Tali (belum diidentifikasi), Dampar Pohon (belum diidentifikasi), Hibiscus tiliaceus, Caesalpiniea bonduc, Erythrina sp., Lannea grandis, Morinda  pubescens, Cymbopogon sp., Wrightia calcyna, Voacanga grandifolia, Imperata sp., Anona squamosa, Ceiba pentadra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>